Tanggal Hari Ini : 31 Oct 2014 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Usaha Barang Bekas Untungnya Berkelas
Senin, 30 April 2012 14:50 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

 

Sekali-kali datanglah ke kawasan Manggarai, Jalan Saharjo Raya, Jakarta Selatan. Anda akan menemukan begitu banyak gerai produk barang bekas, mulai dari furniture, perlengkapan kantor, kebutuhan rumah tangga, hingga deposit box. Salah satu raja barang bekas yang sangat dikenal di daerah tersebut adalah Haji Iso Rustandi (72).

Lelaki asal Cibatu, Garut, Jawa Barat ini, kesohor sebagai pebisnis barang bekas tidak hanya di kawasan Manggarai, Jakarta, tetapi dikenal hingga ke Lampung, Palembang, Surabaya hingga Bandung.

Ia dikenal sebagai pemasok barang bekas, mulai dari aneka kebutuhan furniture untuk pembukaan kantor baru, rumah makan, sekolah, tempat kursus hingga rumah tempat tinggal. Soal kualitas, jangan mengira barang bekas yang dijual terlihat bekasnya. Justru barang bekal yang dijual H Iso terlihat baru. Hargapun sangat bersaing, dan miring jika dibandingkan dengan membeli produk baru, terutama produk furniture  dengan merek terkenal.

Haji Iso memulai bisnis ini awalnya karena keterpaksaan. Bisnis yang semula digeluti dari awal, membuka toko elektronik di kawasan dekat pasar Manggarai, Jakarta Selatan yang dijalani bertahun-tahun terpaksa harus ditutup karena terimbas krisis ekonomi sepuluh tahun lalu. Meski tetap dipertahankan, ia tetap kalah bersaing dengan toko elektronik lainnya. Perang harga sesama pemilik toko elektronik tidak dapat dihindarkan, sementara, bisnis jasa dan perdagangan  yang coba-coba dilakukan juga hanya seumur  tanaman jagung. Bisnis lain, seperti makelar tanah, pemborong bahan bangunan sepertinya tidak membawa hoki. Usahanya ludes, tak berarti.

Ia kemudian mencoba berbisnis barang bekas, dari hal yang tidak pernah diduga-duga sebelumnya. Seorang teman menjual filling cabinet bekas beberapa buah kepadanya. Sebelum menjual kembali H Iso mereparasi dan mengecatnya hingga terlihat seperti baru. Setelah ditawarkan kepada calon pembeli ternyata harganya sangat bagus.

“Saya tidak mengira harganya bisa meningkat dua kali lipat dari beli sebelumnya,” ujar H Iso mengisahkan awal usaha barang bekas ini.

Suatu kali ia pernah membeli satu set meja kantor rongsokan yang hampir tidak berbentuk seharga Rp200 ribu. Setelah dipermak, ternyata ada yang membeli dengan harga Rp1,2 juta. Mengapa ini bisa terjadi,  menurutnya karena kini semakin banyak orang yang lebih suka mencari barang bekas, furnitur bekas, bahkan laci bekas dibanding yang baru, sebab kualitas kayu dan besi yang digunakan masih lebih bagus dari produk barang-barang sekarang. Selain itu, proses pembuatan barang sekarang terkesan asal jadi dan mengabaikan unsur kualitas dan kekuatannya.

 

Ahli Bongkar Pasang

Hampir pasti, sejumlah lemari bekas, furniture bekas, bahkan peralatan kantor bekas, banyak orang yang tak sudi untuk menyimpannya. Saat pindah rumah atau pindah kantor, setumpuk peralatan dan barang bekas siap disampahkan. Tetapi di mata Pak Haji  yang satu ini, barang bekas tersebut merupakan harta karun yang sesungguhnya. Maksudnya, orang tahu pekerjaan pemburu harta karun itu seperti menyusuri lautan dalam, mencari sekeping pecahan guci, uang perak, peralatan dapur kuno dan berbagai benda berharga lainnya. Mereka lalu membersihkan, menyusun kembali dan menjual di sebuah lelang dengan harga sangat mahal. Nah, mirip dengan cara kerja pemburu harta karun itulah kerja H. Iso. Tak ubahnya mencari furnitur bekas atau  meja-kursi rusak untuk dibeli, lantas dipoles dan diperbaiki. Mereka membelinya dengan harga sepantasnya menurut ukuran barang rusak dan bekas. Selanjutnya, tentu saja sesudah melalui proses renovasi- barang itupun dijual dengan harga mahal.

Sejatinya, kunci sukses jual beli barang bekas yang ia lakukan memang terletak pada tim ahli bongkar pasangnya. Dan ia  mempunyai 43 karyawan yang mengerti dan memahami bongkar pasang barang-barang bekas. Mereka memperbaiki, mengelas, mengecat, bahkan “menyulap” barang bekas tersebut menjadi baru kembali.

 

Seni Menaksir Lelang Barang Bekas

Salah satu kunci sukses pebisnis barang bekas adalah keberaniannya mengikuti tender lelang pembelian barang bekas yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan yang melego barang-barang bekasnya untuk dijual secara borongan.

Suatu ketika ada di kejadian sebuah lelang dari gudang yang berisi macam-macam barang, ada furnitur, ada kursi, lukisan, hingga komputer. Anda jangan membayangkan barang-barang bekas di gudang itu letaknya rapi-jali sehingga mudah dihitung. Ketika lelang dimulai, tak satupun peserta lelang berani mengajukan harga mereka. Ada bayang-bayang kerugian dalam kalkulasi. “Ketika saya survei sendiri, saya menghitung berdasarkan feeling saja. Saat itu juga saya tentukan harganya sekian” ujarnya ringan.

Berdasarkan sejumlah pengalaman mengikuti lelang barang bekas, belum sekalipun ia terkecoh dengan barang yang ada. Mengapa demikian? Meski usianya sudah tua, namun H Iso memiliki daya ingat yang tinggi. Ia mampu menghitung dan memperkirakan yang orang lain belum tentu bisa melakukannya.

Pernah, ungkap pria yang akrab disapa Pak Haji ini, ada acara lelang di sebuah gudang besar. Saat pelelangan digelar, semua sama-sama memelototi berbagai barang yang akan dilelang. Keesokan harinya ketika ia kembali lagi untuk memeriksa barang, rupanya ada orang yang menggeser dan memindahkan barang. Spontan ia bertanya, “dimana meja yang ada di sudut ini kemarin” ? ujarnya. Rupanya mereka heran, “ada kursi yang bergeser saja tahu” ujarnya seraya tersenyum.   

 

Belajar dari Kegagalan

Jatuh bangun sebagai pebisnis di era sebelum tahun 1999  lalu,  menjadi pelajaran yang terus dikenangnya. Bukan dikenang kegagalannya, tetapi dikenang pelajaran-pelajaran atas kegagalannya.  Betapa kegagalan itu, menurut H. Iso dapat hinggap kepada siapa saja, bisa di usia muda juga bisa diusia tua. Demikian juga dengan kesuksesan dan kemudahan untuk mendapatkan rejeki, siapapun dapat memperolehnya.

Saat itu, ketika kebangkrutan melanda dirinya,  usia H. Iso  terbilang tidak muda lagi. Bahkan banyak orang yang tidak menyangka di usianya yang semakin tua, justru kesuksesan malah berpihak kepadanya.  Bisnis barang bekas yang dikelolanya semakin lama semakin berkembang, semakin besar, bahkan ia membuka cabang ke berbagai lokasi di Jakarta.

 

Peluang Kerja Bagi Pengangguran

Ide bisnis yang dijalankan ini sebenarnya bergulir sangat sederhana. Berawal dari keinginannya untuk menolong orang, dengan memberikan lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Ia trenyuh melihat begitu banyak pengangguran. Ia pun mencoba memberikan kontribusi sebisanya, dengan usaha yang didirikannya.

“Kasihan  banyak anak-anak yang lulus SD atau SMP tidak ada peluang pekerjaan. Kalau yang pinter-pinter sih gampang mencari pekerjaan, tetapi yang lulus SD seperti mereka, jika kita tidak membimbingnya apa yang dapat mereka lakukan. Kita harus membimbingnya sampai ia mandiri,” ujar ayah dari 18 anak dan kakek dari 23 cucu ini.

Kini ia mensyukuri dan telah memetik hasil jerih payahnya dari menggeluti jual-beli barang bekas. Rasa syukur itu, antara lain ia wujudkan dengan menunaikan ibadah haji di tahun 2002 lalu bersama seluruh keluarga besarnya. Ia kini memeliki 11  ruko di Depok dan Jakarta,  serta tanah untuk gudang seluas 300 meter persegi  yang digunakan untuk memperluas usahanya.  

Semua itu, menurut H. Iso Rustandi berkat dukungan Bank BRI. Ketika pertama kali mulai mengembangkan usaha jual beli barang bekas di tahun 2002  ia memperoleh kredit Rp25 juta dari Bank BRI, namun karena cicilannya selalu lancar dan usahanya terus berkembang, pinjaman yang diberikan Bank BRI terus meningkat jumlahnya.

“ Alhamdulillah saya dipercaya oleh Bank BRI, sehingga usaha saya dapat berkembang seperti saat ini,” cetusnya. n

 

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari