Tanggal Hari Ini : 26 Sep 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Mengais Rezeki Melalui Artemia
Kamis, 19 Juli 2012 08:33 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Oleh Romi Novriadi

Budidaya perikanan saat ini dikenal sebagai sektor produksi bahan pangan yang berkembang sangat pesat di dunia. Terlebih lagi, ikan mengandung manfaat dan protein yang baik untuk tubuh pengkonsumsinya. Seiring dengan semakin meningkatnya permintaan ikan secara global, tentu akan berdampak positif terhadap peningkatan produksi budidaya perikanan, mengingat kita sudah tidak dapat mengandalkan sektor ikan tangkapan karena status Over-fishing di beberapa wilayah perairan di Indonesia.

Untuk memulai usaha budidaya perikanan, kunci sukses utama adalah produksi benih berkualitas. Kita tidak bisa lagi mengandalkan tangkapan benih alam seperti yang terjadi pada tahun 1970-an, dimana benih ikan pada saat itu sangat mudah diperoleh dan memiliki jumlah yang melimpah. namun dikarenakan maraknya ekploitasi sumberdaya ikan yang telah melampaui daya dukung sumberdaya alam dan semakin diperparah dengan berbagai isu lingkungan, seperti pengrusakan mangrove yang merupakan tempat berkembang biak sebagian besar ikan laut ekonomis penting serta berbagai pencemaran lingkungan perairan, baik yang disebabkan oleh industri maupun dari rumah tangga.

Peluang investasi pada industri perbenihan terbuka sangat lebar, karena pengusaha yang benar-benar berniat untuk investasi di bidang ini masih sangat terbatas. Namun demikian, yang perlu diingat adalah bisnis di bidang perbenihan tidak semudah di bidang perbesaran, karna untuk memelihara benih diperlukan ketelatenan, ketajaman analisis, kesabaran, dan juga pemahaman tentang bagaimana meningkatkan jumlah produksi dan kualitas larva melalui pakan awal yang berkualitas dimana salah satunya adalah melalui  Artemia (Brine shrimp).

Keunikan utama Artemia adalah karena zooplankton yang satu ini dikenal sebagai “non selective filter feeder” dimana dia akan menyerap seluruh makanan yang ada di lingkungan sehingga pada saat menetas, ketika diperkaya dengan berbagai bahan nutrisi seperti asam amino essensial,  vitamin, mineral dan berbagai bahan gizi lainnya, Artemia akan menyerap berbagai bahan nutrisi tersebut masuk kedalam tubuhnya sehingga ketika kita masukkan artemia kedalam bak pemeliharaan, benih ikan akan langsung memperoleh pakan yang didalamnya telah terkandung berbagai bahan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan benih ikan.

Sebagai pakan hidup benih ikan, Artemia Artemia sudah dikenal beberapa dekade yang lalu. Namun peningkatan kebutuhan Artemia semakin terlihat seiring dengan semakin intensifnya industri budidaya perikanan. Secara alami, populasi artemia dapat ditemui di perairan dengan kadar garam tinggi dan tidak ada predator. Dan eksplorasi pertama dilakukan di Great Salt Lake-Utah, Amerika serikat. Saat ini distribusi artemia secara alami juga ditemui di beberapa lokasi seperti di Siberia, Central Asia dan di beberapa danau dan muara dengan kadar garam tinggi. Produksi secara industri juga sudah dilakukan oleh beberapa perusahaan eropa, namun harga yang harus dibayar oleh para pembudidaya ikan untuk mendapatkan 1 Kg Cyst artemia sangat mahal, di eropa harga jual artemia mencapai 50 euro/Kg.

Perubahan iklim dan efek La Nina di Amerika serikat sempat membuat produksi Artemia menurun dan ini sangat mengguncang pelaku bisnis perbenihan ikan di seluruh dunia, sehingga mulai saat itu beberapa negara mendorong pengusaha dan pembudidaya ikan untuk memproduksi Artemia demi memenuhi kebutuhan pakan awal bagi larva ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Cina dan Vietnam adalah contoh sukses negara yang sudah mulai berhasil memproduksi Artemia skala massal di lokasi tertutup dengan kadar garam artifisial yang memenuhi standar pertumbuhan Artemia. Bahkan Vietnam secara rutin mengirimkan pelajarnya untuk memperbaiki kualitas produksi artemia di Artemia Reference Centre Universiteit Gent-Belgia dan ini secara penuh didukung oleh komunitas pengusaha dan para pengambil kebijakan di negara tersebut. Ini juga yang menjadi salah satu motivasi saya untuk kuliah di Universiteit Gent Belgia, walaupun hingga kini belum mendapatkan dukungan untuk produksi Artemia secara massal.

Kembali ke Artemia, bila kita hubungkan dengan kondisi lingkungan di Indonesia, sangatlah mendukung untuk produksi Zooplankton ini secara massal. Kita memiliki perairan dengan kadar garam stabil 32-33 ppt. Bahkan pulau Madura sebagai penghasil garam memiliki kadar garam 40 ppt. Namun kenapa kita belum memulai produksi artemia Artemia ini?, Mari sejenak kita kaitkan kondisi ini dengan tuntutan produksi benih ikan yang dicanangkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan hingga 353%, kaitkan juga kondisi ini dengan permintaan peningkatan suplai ikan secara global, bukankah ArtemiaI menjadi sebuah komoditas yang sangat menarik untuk kita kembangkan?

Produksi benih kita sangat terhambat dikarenakan banyaknya benih ikan yang dihasilkan memiliki kualitas buruk sehingga tingkat kelulushidupannya sangat rendah dan rentan terserang penyakit.  Keluhan yang muncul di lapangan adalah, banyak para pembudidaya merasakan lambatnya laju pertumbuhan dan dalam proses pembesaran memerlukan jumlah pakan yang lebih banyak sehingga menimbulkan konversi pakan dan ongkos produksi yang lebih besar.  Untuk mengatasi hal tersebut berbagai terobosan dan inovasi untuk menghasilkan benih berkualitas harus terus dilakukan.

Berdasarkan data dari direktorat perbenihan KKP, produksi benih ikan air tawar dan benih ikan air payau/laut ukuran rata-rata 1 s/d 3 cm yang dilaporkan sampai dengan triwulan III berjumlah 27.489.645.670 ekor. Bila dilihat dari target kebutuhan benih ikan tahun 2011 sebesar 42.276.000.000 ekor, maka produksi benih tersebut telah mencapai 65,02%. Pencapaian produksi benih ini sebagian besar dicapai oleh produksi benih ikan air tawar sebesar 49,95 %, sementara benih ikan air payau/laut hanya tercapai sebesar 15,08%. ini peluang usaha yang cukup menjanjikan sekaligus tantangan untuk dapat memenuhi permintaan pasar yang sedemikian besar dengan pasokan benih ikan yang berkualitas.

Kita bisa membayangkan jikalau di sepanjang garis pantai Indonesia, terdapat sentra-sentra produksi benih rumah tangga, walaupun dengan skala kecil namun dampaknya sangat besar bagi peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Beberapa daerah seperti Situbondo dan Bali dapat diambil sebagai contoh, bagaimana masyarakat sangat menikmati kegiatan perbenihan ikan skala rumah tangga dengan mendapatkan keuntungan ekonomi yang tidak sedikit. Semua produksi benih tersebut akan dapat terwujud dengan tersedianya pakan awal (baca : Artemia )yang berkualitas.

Artemia, sebagai pakan hidup tidak hanya dapat digunakan dalam bentuk nauplius, tetapi juga dalam bentuk dewasanya. Bahkan jika dibandingkan dengan naupliusnya, nilai nutrisi Artemia dewasa lebih tinggi dibandingkan pada saat nauplius, namun kita harus selalu berpatokan terhadap ukuran mulut benih ikan yang dikembangkan di sekitar lokasi kita. Produksi biomassa Artemia dapat dilakukan secara ekstensif pada tambak bersalinitas cukup tinggi yang sekaligus memproduksi Cyst (kista) dan dapat dilakukan secara terkendali pada bak-bak dalam kultur massal ini.

Untuk mendapatkan biomassa Artemia, nauplius Artemia dikultur dalam beberapa hari. Lama pemeliharaan tergantung pada ukuran Artemia yang dikehendaki. Jika Artemia digunakan sebagai pakan ikan karnivora seperti larva Kerapu macan, maka sebaiknya Artemia langsung diberikan setelah ditetaskan dan diberi bahan pengkaya. Untuk pakan benih udang, lama masa pemeliharaan dapat dilakukan 5-7 hari, sedangkan jika digunakan sebagai makanan udang dewasa maupun untuk diproses sebagai bahan baku makanan buatan, maka lama pemeliharaan dapat dilakukan sekurang-kurangnya 15 hari. Para pembudidaya juga dapat memperpanjang masa pemakaian artemia setelah ditetaskan dengan cara dekapsulasi dan menyimpan Artemia dalam kulkas dengan suhu tertentu untuk memperlambat laju metabolismenya, sehingga pembudidaya dapat langsung menggunakan artemia kapan saja dibutuhkan untuk diberikan ke benih ikan.

Keberhasilan budidaya Artemia di tambak tentu akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor seperti musim atau iklim, tata letak dan konstruksi tambak, tersedianya pasokan air laut dengan kandungan garam tertentu, serta dibarengi dengan pemberian nutrisi atau bahan pengkaya yang tepat di lingkungan budidaya Artemia.  Jika semua faktor tersebut diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik maka produksi kista Artemia akan berhasil dilakukan sehingga harapan kita nantinya bahwa kebutuhan kista Artemia untuk produksi benih ikan di Indonesia dapat terpenuhi dan impor kista Artemia dari negara lain dapat dikurangi untuk menghemat devisa negara sekaligus meningkatkan pendapatan para petani tambak dan pembudidaya ikan.

Berbagai prediksi yang mengemuka di beberapa pertemuan perbenihan ikan dunia tentang kekhawatiran musnahnya produksi massal Artemia secara alamiah di beberapa lokasi akibat perubahan iklim secara global dapat memacu kita untuk dapat ikut serta mengembangkan Artemia sebagai alternatif mengais rezeki di tengah krisis.

Saya berharap dukungan pengusaha dan para pengambil kebijakan dapat saling bersinergi dalam mendukung peningkatan produksi benih berkualitas dan berkelanjutan dengan produksi massal kista Artemia di Indonesia. Penguasaan teknologi sudah dilakukan dan sedang dilakukan oleh para pelajar Indonesia yang saat ini belajar di Artemia Reference Centre-Belgia. Semoga perjuangan yang kami lakukan tidak menjadi sia-sia. Semoga.

Penulis adalah Pengendali Hama dan Penyakit Ikan KKP-RI, Mahasiswa Pasca Sarjana Master of Aquaculture Universiteit  Gent-Belgia, dapat dihubungi melalui email: Romi_bbl@yahoo.co.id

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari