Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Balada Taufik Abidin & Suhaimi Makin Tergilas Jika Tak Kreatif
Jumat, 05 Oktober 2012 16:58 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Lima tahun lalu, Taufik Abidin (54) satu dari sekian banyak orang yang terpesona dengan kemegahan Jakarta. Ia hijrah dari Jambi, dengan berbekal keahlian menjahit menuju area bisnis yang saat itu sedang ramai-ramainya, Kawasan Pasar Kramat Jati, Jakarta. Bagi Taufik, Jakarta tetaplah menjanjikan. Berbekal modal Rp5juta, ia menyewa sebuah kios kecil, membeli peralatan jahit, dan mengibarkan jasa ketrampilannya sebagai penjahit pakaian. Pria kelahiran Solok, Sumatra Barat ini mencoba peruntungan baru, setelah sebelumnya merasa peluang suksesnya di Jambi tidak kunjung tiba. “Di Jambi masih terlalu sepi, sementara Jakarta sangat menjanjikan, ujar pemilik Temi Tailor ini.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Taufik menggunakan beberapa cara. Pertama, ia mencari lokasi kios yang cukup ramai di kawasan Pasar Kramat Jati, Jakarta. Pertimbangannya, lokasi yang ramai akan memudahkan banyak orang mengenal dan mengetahui dengan mudah tempat usahanya. Kedua, ia merekrut penjahit cukup banyak, dan menetapkan target-target bagi setiap penjahit yang bekerja pada dirinya. Melalui penjahit-penjahit yang direkrutnya itulah Temi Tailor yang dikelolanya lebih cepat dikenal oleh masyarakat.

Namun persaingan usaha di bidang jahit dan bordir pakaian di Kawasan Pasar Kramat Jati ini ternyata berdarah-darah. Persaingannya kian tinggi, dan pelanggan kian sedikit jumlahnya. Apalagi semakin banyak pakaian jadi dijual dengan harga sangat murah. Usaha Taufik kian merosot, dan lama kelamaan usahanya meluncur kejurang kebangkrutan. Ia merasakan, cara-cara yang telah ia lakukan ternyata salah. Namun dari sanalah ia belajar banyak. Strategipun ia ubah. Ia mulai dari nol kembali, mempertahankan kios yang telah disewanya sebagai basis bisnisnya, tetapi kali ini ia tidak lagi menunggu pelanggan yang datang.

Ia juga tidak mempekerjakan karyawan tetap, yang menurutnya sangat memberatkan usahanya. Dalam hal pemasaran, ia mulai mendatangi perkantoran, sekolah-sekolah, dan menawarkan jasa pembuatan seragam. Meski tidak begitu banyak awalnya, namun langkah ini membawa perubahan yang signifikan, karena semakin banyak pelanggan yang menggunakan jasanya. Taufik juga mulai memahami penggunaan bahan-bahan untuk seragam, mulai dari bahan kaos, kain untuk seragam kerja, hingga aneka pesanan seragam batik. Baginya, jenis jahitan dan bahan yang digunakan bukanlah kendala utama, yang terpenting bagaimana ia memperoleh order pekerjaan.

Saat ini, setidaknya dalam sehari ia masih mengantongi omzet tak kurang dari Rp500ribu per hari. Bekerjasama dengan Freelance Marketing Untuk memperbanyak order ia bekerjasama dengan para marketing lepas yang bertugas mencari order-order pekerjaan. Para marketing lepas ini biasanya memperoleh fee 10% hingga 20 % dari nilai yang ia peroleh. Dengan cara ini, order jahit terus mengalir dan usahanyapun terus hidup. Namun tak semua usaha jahit di Pasar Kramat Jati mengalami masa-masa kejayaan. Suhaimi misalnya, pemilik usaha jahitan Citra Baru ini telah lelah melihat persaingan usaha jahit yang terus bertambah ketat akibat semakin banyaknya pengangguran.

“Jika melihat satu orang usaha jahit berhasil, semua orang ingin melakukan usaha serupa, akhirnya persaingan benar-benar semakin padat,” paparnya. Meski persaingan kian ketat, namun pasar juga semakin terbuka cukup lebar, diantaranya dengan semakin banyaknya seragam kerja bagi perusahaan-perusahaan UKM, perusahaan-perushaan yang telah difranchise, maupun seragam kantor yang kian beragam. Harga pekerjaan juga kian kompetitif, mulai dari Rp60 ribu (sudah termasuk kain) hingga Rp300ribu.

Beberapa blan lalu, Suhaimi memperoleh pekerjaan pembuatan seragam dari sebuah perusahaan swasta sebanyak400 stell kemeja. Mendapat pekerjaan sebanyak itu dengan jadwal waktu yang ketat, Suhaimi mengajak para penjahit. Teman lainnya yang ada di kawasan tersebut untuk ikut ramai-ramai mengerjakannya. Meski pekerjaan di sub kan kepada teman lainnya, namun kontrol kualitas ia lakukan sendiri. Ia tidak mau pelanggannya kecewa, dan jika ada penjahit yang tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan ia tidak akan lagi mengajak penjahit yang kualitasnya kurang dapat dipertanggungjawabkan.

Modal memang klasik menjadi permasalahan mereka, tetapi masalah lain yang sering jadi kendala adalah lamanya pembayaran pemesan kepadanya. Beberapa tahun terakhir Suhaimi telah memberlakukan pembayaran uang muka bagi pemesan, atau pembayaran tunai setelah barang selesai dikerjakan.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari