Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Rahmat Berlimpah Dari Semerbak Coffee
Kamis, 03 Januari 2013 14:17 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

  Oleh Muadzin F Jihad

 

Semerbak Coffee, awalnya hanyalah usaha yang iseng-iseng saja. Awal mula bisnis ini berdiri ditandai dengan dibukanya booth pertama Semerbak Coffee di Teras Ruko milik kami di Jalan Nusantara Raya, Depok.

Sungguh banyak hal luar biasa terjadi di tahun pertama ini. Banyak sekali kemudahan-kemudahan, peluang-peluang tak terduga, 'jalan' yang tiba-tiba terbuka, dan lain-lain.

Berawal dari sekedar ide iseng, jadilah Semerbak Coffee berkembang seperti sekarang.

Dari omzet 600 cup/bulan, sekarang mencapai puluhan ribu cup/bulan. Dari 1 orang penjaga outlet, sekarang mencapai ratusan orang karyawan.  Dari hanya di teras ruko, hingga menempati dua lantai ruko untuk kantor dan satu rumah untuk produksi dan gudang. Tidak ada kata yang bisa terucap selain syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas rahmat luar biasa yang diberikan kepada kami melalui usaha ini.

Ide bisnis ini berawal dari ‘dipertemukannya’ saya dengan Iwan Agustian, teman sekolah SMP yang ketemu lagi di Depok setelah 24 tahun berpisah. Iwan ini yang kemudian mengenalkan komunitas bisnis TDA (www.tangandiatas.com) kepada saya. Dia melontarkan ide iseng untuk mengisi teras ruko saya yang kosong dengan membuat booth yang menjual kopi blend. Dia siap dengan suplai bahan bakunya. Saat itu memang saya sedang berpikir untuk membuat take-away booth minuman siap saji di teras ruko yang kosong tersebut, yang waktu itu terlintas adalah minuman cendol. Nah kebetulan ada yang ngajak kerjasama, dan kopi-blend sepertinya lebih menjanjikan dibanding cendol. Langsung saya setuju untuk mencoba bekerjasama. Pucuk dicinta ulam tiba.

Semerbak coffe, ide bisnis, starbuck

Selanjutnya ide iseng itu serius kami rembukkan. Rencana besar kami adalah kami tidak hanya akan membuat satu booth, tapi kami akan menjual bisnis kami, alias menjadi franchisor booth minuman kopi-blend siap saji.

Entah bagaimana chemistry diantara kami terbentuk begitu saja. Jadi ide-ide kami mengalir dengan lancar. Terus terang waktu SMP dulu kami sebenarnya tidak kenal-kenal amat, maklum tidak pernah sekelas dan beda genk. Iwan genk gaul, saya tidak ber-genk.

 

Teinspirasi dari Starbuck

Masih segar dalam ingatan, saat kami mencari nama dan mendesain logo Semerbak Coffee. Dengan modal secarik kertas dan pulpen kami mengatur strategi, membagi tugas, mencari nama, dan lain-lain. Terus terang kami, terutama saya, terinspirasi oleh Starbucks yang merupakan kafe favorit saya. Karena itu nama dan logo kami sedikit banyak terinsppirasi oleh jaringan coffee shop terbesar di dunia tersebut.

Malam itu saya mulai mendesain nama dan logo usaha kami. Beberapa kata terlintas di kepala. Kata yang berakhiran 'bak' (dari Starbucks) tapi yang meaningful dan relate dengan kopi.

Singkat cerita, berdasar wangsit yang turun, hehehe  ketemulah nama 'Semerbak', yang sangat berhubungan dengan kopi, dan yang penting berakhiran 'bak'.  Keluarlah juga logo awal kami. Dengan spelling 'Semerbucks' Dengan logo lingkaran warna hijau.

Tetapi  setelah dipikir-pikir, kan kita berencana untuk menjual bisnis kita sebagai kemitraan / business opportunity, masak logonya kayak plesetan gitu. Kesannya jadi tidak serius. Setelah melalui proses kreatif, kerja keras akhirnya jadilah brand ‘Semerbak Coffee’, dengan akhiran ‘bak’ dan logo lingkaran berwarna ungu.

Mengenai warna, banyak yang bertanya, kenapa warnanya ungu? Ceritanya malam itu lagi ngotak-ngatik logo, saya bertanya pada istri saya,  bagusnya warna apa ya? Kata istri, ungu-abu-abu bagus tuh. Nih seperti ini, sambil dia menunjuk kotak tempat baju kotor anak-anak. Maka jadilah logo Semerbak seperti sekarang ini. Banyak yang bilang warnanya cantik dan unik, tidak  seperti warna produsen kopi yang lain. Ya itu karena sentuhan seorang wanita.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari