Tanggal Hari Ini : 21 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
TERATURNYA PASAR TRADISIONAL AL-KHUDHOR DI MADINAH
Senin, 10 Juni 2013 15:56 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Awal April 2013 lalu, Majalah WK berkesempatan mengunju-ngi Pasar Tradisional Al Khu-dhor. Pasar ini merupakan pasar tradisio-nal terbesar di Madinah yang mensuplay berbagai kebutuhan pokok masyarakat Madinah dan sekitarnya. Bahkan harga-harga  produk di pasar ini dikenal sangat murah. Untuk membuktikan harganya murah, saya membeli sekotak kurma de-ngan harga 35 real, padahal harga produk serupa (merek dan bentuk yang sama) di toko kurma di seputaran Masjid Nabawi,  Madinah harganya antara 60 real hingga 70 real.
    Selepas Mahrib,  kami meluncur menggunakan taksi menuju pasar tradi-sional itu. Dari Masjid Nabawi, Madinah, pasar Al Khudhor jaraknya tak terlalu jauh, kira-kira perjalanan 25 menit menggunakan taksi, dengan jalanan yang tak terlalu macet di kota nabi itu.
    Ditemani Ustad Anwar, pria asal Pa-riaman, Sumatra Barat yang sedang menyelesaikan studinya di Mahad Al Haram di Madinah, kami menyusuri pasar Al Khudhor, melihat dari dekat sebuah pasar tradisional yang teratur dan rapi.


Cermin Penguasanya
    Ada banyak pertanyaan yang ingin kami buktikan di sini. Benarkah kota yang teratur dan beradab juga memiliki pasar yang teratur. Benarkan sebuah kota dengan pasar tradisionalnya yang kusam, macet, becek dan semrawut juga menjadi ceminan bagi kota tersebut dan penguasanya. Kami melihat begitu banyak pasar tradisional di Indonesia yang sangat jauh dari sebutan layak, dan dapat dipastikan ekonomi rakyat di kawasan tersebut juga hancur, semrawut dan yang pasti tak teratur.
    Keteraturan adalah sebuah karya manajemen. Karena itu,  penguasa dan pemerintahan yang lalai menjadikan pasar tradisional yang ada di daerahnya menjadi sentra ekonomi yang teratur sa-ngat mungkin manajemen pemerintahannya juga amburadul.  

PASAR AL KHUDHOR


Tradisional yang Modern
    Al Khudhor bukan mall atau pusat berbelanjaan modern yang megah, yang banyak bertebaran di Madinah. Al Khu-dhor justru adalah sebuah pasar tradi-sional yang dihuni oleh para pe-ngusaha-pengusaha mikro dan kecil. Produk-produk yang dijual pun layaknya seperti yang dijual di pasar tradisional di Indonesia, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, bunga, cabai, bawang dan produk-produk hortikultura, beras, da-ging kambing, daging lembu, aneka ikan mulai dari produk perikanan air tawar hingga air laut, daging ayam, dan bahkan aneka pernik-pernik kebutuhan kehidupan sehari-hari pun tersedia.  
    Luas pasarnya, menurut informasi yang kami peroleh luasnya mencapai kurang lebih hanya 5-6 hektar dengan penataan dan zonasi produk yang teratur.  Zonasi pertama, terdiri dari stand yang terdiri dari kios-kios yang memanjang, ada zonasi produk kain/pakaian, zonasi produk buku-buku dan asesoris, zonasi yang menjual kertas/pembukungkus dan peralatan makan, zonasi penjual produk elektronik, dan lain-lain.
    Sangat penting untuk kami  jelaskan disini bahwa masing-masing pedagang harus berjualan berdasarkan zonasi dan berada di zonasi yang ditetapkan. Setiap zonasi zonasi itu terdiri dari kios-kios  yang berukuran 4x6 meter, ada yang berukuran lebih kecil, ukurannya 3x4 meter, namun letaknya berada di zonasi yang berbeda. Untuk kios-kios yang menjual produk sayuran, makanan atau minuman dan sejenisnya, sebagian besar kios-kios tersebut dilengkapi oleh kamar pendingin/kamar beku.
    Di zona lain pasar ini juga menyediakan tempat bagi  para penjual khusus pedagang lapak/kaki lima. Tempatnya berada di lokasi terbuka tanpa atap. Meskipun  mereka adalah pedagang kaki lima namun produk-produk yang dijual di sini semuanya terbungkus rapi, atau ditempatkan dalam kotak-kotak kayu yang teratur.

Pasar yang Bersih  
    Ketika kami memulai mengunju-ngi pasar ini, kami memulai dari lokasi tempat berdagang kaki lima yang letaknya tidak jauh dari masjid, luasnya kira-kira seluas lapangan bola. Para penjualnya, yang sebagian laki-laki juga terlihat bersih, menggunakan gamis putih dengan surban di kepala khas masyarakat Arab, tetapi ada juga yang berkulit hitam, biasanya mereka berasal dari suku Baduy.
    Para pembelinya, sebagian besar laki-laki, jarang sekali kami mendapati pembeli perempuan. Kalaupun ada mereka selalu didampingi oleh mahramnya jika berkeliling di pasar ini.
    Kami sempat bertanya, kapan saat paling ramai pembeli datang ke pasar ini?. Berbeda dengan di Indonesia, yang sangat ramai dari tengah malam hingga pagi, pasar Al Khudhor sangat ramai ha-nya tengah malam saja. Menjelang subuh para pedagang sudah berkemas untuk sholat subuh dan meninggalkan pasar. Adapun bagi pedagang yang menempati kios-kios, jam buka biasanya pagi hari sekitar jam 9 pagi hingga tengah malam.
Pedagang kaki lima di pasar ini tidak ada yang menjual produk-produk seperti buah-buahan atau sayuran yang digelar terbuka begitu saja. Produk-produk yang dijual hanya didisplay sebagian, sebagian yang lain masih ditempatkan dalam kotak-kotak atau tempat yang rapi, dan sebagian berada dalam bungkus/kardus yang aman.
    Oya, harga-harga produk yang dijual di zona pedagang kaki lima ini juga bisa ditawar. Namun, seperti kata ustad Anwar, meskipun mereka pedagang kaki lima mereka tidak seenaknya saja menawarkan harga kepada pembeli. Jika para pedagang kaki lima tersebut mena-ikkan harga semau mereka akan ada petugas khusus yang akan mengingatkan atau menegurnya. Jadi jangan kuatir jika ada pembeli tersebut orang asing, sehingga takut dimahalin.
    Berbeda dengan zona yang lain, zona untuk pedagang kaki lima tidak dilengkapi dengan lampu yang terang. Penerangan hanya mengandalkan lampu penerangan umum dari tiang yang tinggi.
    Juga tidak ada lampu-lampu dengan kabel yang berserakan sehingga dapat menjadi penyebab kebakaran pasar. Ketika saya tanya mengapa tidak ada lampu penerangan bagi kios-kios pedagang kaki lima, ternyata para pedagang kaki lima tersebut menempati tempat berjualan dengan gratis sehingga tidak ada fasilitas tambahan yang diberikan.
    Kami kemudian menyusuri zona berjualan sayur dan buah-buahan yang berada di dalam gedung, letaknya seperti blok-blok dengan jalan tengah yang luas dan bersih. Di sana ada kios-kios yang menjual  sayuran, buah-buahan, dan sebagainya.
    Di sebelahnya ada zona untuk para pedagang daging yang menjual aneka daging unta, kambing, dan daging lembu. Di setiap kios-kios itu biasaya ada 2 hingga 3 orang yang menjaga dan melayani pembeli. Bagi pedagang yang menempati kios-kios untuk berjualan daging selain tempatnya harus tertutup kaca dan berpendingin udara, juga dilengkapi dengan timbangan elektrik. Pakaian para penjual daging juga khusus.  Kami juga mendapatkan informasi bahwa hewan yang akan disembelih dan dijual di pasar ini harus sudah disertifikasi.
    Kami kemudian berlanjut ke kios pedagang ikan yang letaknya tidak jauh dari zona pedagang daging. Di kios pedagang ikan sebagian terbesar tertera poster besar yang menjelaskan nama-nama ikan, serta habitat hidupnya, ada juga yang menambahi dengan informasi harga ikan. Uniknya, para penjual ikan di pasar ini juga menyediakan layanan untuk meng-goreng atau membakar ikan secara gratis. Kami melihat banyak keluarga yang berbelanja ikan pada malam hari,  dan sekaligus meminta untuk digorengkan sekaligus, plus dengan bumbu-bumbu yang menyertainya.   


Serba Baik
    Kami mendapatkan informasi juga bahwa kualitas sayuran, bahan-bahan pangan, dan bahkan daging, ikan dan sebagainya dikontrol secara ketat oleh pihak berwenang. Sekali saja para pemilik kios atau gerai  melakukan penipuan,  misalnya menjual produk tidak berkualitas di pasar tersebut izin usahanya akan dicabut.
    Stok produk juga sangat aman ka-rena hampir setiap gerai memiliki kamar pendingin yang dapat menyimpan berton-ton bahan produk.

Tempatnya, Aman.
Tak Ada Preman
    Pasar Al Khudhor lokasinya berada di luar pinggiran kota Madinah. Akses menuju ke pasar itu juga mudah, tidak macet. Para pengunjung yang ingin berbelanja dapat memasuki area pasar de-ngan membawa mobil atau kendaraannya dengan mudah. Tidak ada juru parkir  yang menjaga area itu, juga tidak ada perusahaan jasa parkir yang mengelola perparkiran di lokasi pasar itu. Semuanya serba teratur, saling menghargai untuk memberikan kesempatan kepada pengunjung pasar berbelanja dengan nyaman.
    Selain itu, petugas pengangkut sam-pah selang beberapa menit saling bergantian untuk mengangkut sampah yang ada. Selama kami berada di pasar Al  Khudhor  satu jam, kami melihat lebih dari 2 kali mobil pengangkut sampah lewat di pasar itu. Mereka menggunakan kendaraan datsun kecil, sampah-sampah itu diangkut oleh orang-orang berseragam kuning strip coklat. Padahal saat itu waktu  sudah beranjak menuju tengah malam.
    Harusnya kami lebih lama untuk melihat dari dekat denyut dan kehidupan Pasar Al Khudhor , mungkin dari pagi hingga menjelang pagi lagi, agar kami dapat bercerita banyak kepada anda, betapa senangnya memasuki pasar yang bersih, yang pedagangnya jujur dan amanah, yang pengaturan dan organisasinya teratur, barang-barang yang dijual terjamin kualitasnya, terjamin harganya. Sebuah pasar yang mengajarkan setiap orang boleh belajar berdagang atau berwirausaha tanpa harus diberikan beban yang berat untuk memulainya.
    Sebuah pasar yang sangat peduli bahwa rakyat dan masyarakatnya memerlukan tempat untuk mencari nafkah,  dan perlu dukungan negara dan pemimpinnya untuk melanjutkan kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya dengan sejahtera.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari